PENGENALAN ALAT NAVIGASI ELECTRONIK DI ATAS KAPAL

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Bernavigasi adalah merupakan bagian dari kegiatan melayarkan kapal dari suatu tempat ketempat lain. Pengetahuan tentang alat-alat navigasi sangat penting untuk membantu seorang pelaut dalam melayarkan kapalnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, modernisasi peralatan navigasi sangat membantu akurasi penentuan posisi kapal di permukaan bumi, sehingga dapat menjamin terciptanya aspek-aspek ekonomis. Sistem navigasi di laut mencakup beberapa kegiatan pokok, antara lain:

  • Menentukan tempat kedudukan (posisi), dimana kapal berada di permukaan bumi.
  • Mempelajari serta menentukan rute/jalan yang harus ditempuh agar kapal dengan aman, cepat, selamat, dan efisien sampai ke tujuan.
  • Menentukan haluan antara tempat tolak dan tempat tiba yang diketahui sehingga jauhnya/jaraknya dapat ditentukan.
  • Menentukan tempat tiba bilamana titik tolak haluan dan jauh diketahui.

 

1.2  Tujun Penulisan

Secara umum tujuan mempelajari teori ini adalah agar taruna dapat mengenal hal dasar mengenai alat navigasi elektronik, sehingga kesulitan yang mungkin akan terjadi pada saat bernavigasi dapat diatasi. Adapun tujuan khusus mempelajari teori ini adalah :

-          Dapat mengetahui macam-macam alat navigasi elektronik.

-          Dapat memahami fungsi serta kegunaan dari alat navigasi tersebut.

-          Dapat mengetahui prinsip dan cara kerja dari alat navigasi tersebut.

-          Dapat mengetahui kelebihan serta kekurangan dari alat navigasi tersebut.

Selain itu juga sebagai syarat mengikuti Ujian Akhir semester IV.

1.3  Pembatasan Masalah

Masalah yg dibahas pada penulisan paper ini adalah mengenai alat-alat navigasi elektronik diatas kapal serta prinsip dan cara kerjanya.

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Pengertian Navigasi

Navigasi adalah proses melayarkan kapal dari satu tempat ke tempat lain dengan lancar aman dan efisien.

Alat navigasi adalah alat yang digunakan untuk membantu dalam bernavigasi, Alat navigasi dibagi menjadi dua macam yaitu alat navigasi konvensional dan elektronik.

 

2.2  Macam – macam Alat Navigasi Elektronik

 

2.2.1        Radar

2.2.1.1  Pengertian Radar

Radar singkatan dari “Radio Detection and Ranging” adalah peralatan navigasi elektronik terpenting dalam pelayaran. Pada dasarnya radar berfungsi untuk mendeteksi dan mengukur jarak suatu obyek di sekeliling kapal. Disamping dapat memberikan petunjuk adanya kapal, pelampung, kedudukan pantai dan obyek lain disekeliling kapal, alat ini juga dapat memberikan baringan dan jarak antara kapal dan objek-objek tersebut.

Oleh karena itu radar sangat bermanfaat untuk mengetahui kedudukan kapal lain sehingga dapat membantu menghindari/ mencegah terjadinya tabrakan dilaut. Radar akan sangat berguna pada saat cuaca buruk, keadaan berkabut, dan berlayar di malam hari terutama apabila petunjuk pelayaran seperti lampu suar, pelampung, bukit atau bangunan visual tidak dapat diamati.

Kelebihan utama radar dibandingkan dengan alat navigasi elektronik lain adalah radar tidak memerlukan stasiun-stasiun pemancar.

 

2.2.1.2  Bagian-bagian Radar

 

a)      Timer (trigger)

Bagian ini berfungsi untuk membangkitkan pulsa-pulsa yang bertegangan tinggi yang diteruskan pada modulator dan indikator dalam waktu yang sama. Untuk menyamakan waktu ini, maka diperlukan pengukur waktu yang berguna mengukur waktu pemancaran pulsa-pulsa radio yang dipancarkan itu.

b)     Modulator

Bagian ini berfungsi untuk memodulir gelombang radio (pulsanya) yang dipancarkan dan untuk memperkuat atau mempertinggi tegangan pulsa yang akan dipancarkan. Tegangan tinggi ini didapat dari tabung magnetron. Dengan demikian guna membangkitkan tegangan tinggi, pemancar harus dijalankan (dihidupkan) lebih dahulu (stand by)

c)      Pemancar (transmitter)

Memberikan energi yang besar pada pulsa-pulsa dalam bentuk yang disebut tenaga puncak (peak power) yang kemudian disalurkan ke penghantar gelombang (wafeguide) terus ke antena, dari antena pulsa itu disalurkan ke udara dalam bentuk elektron yang berputar. Bagian pemancar ini pada instalasi dikapal disatukan dalam satu kabin atau kotak.

d)     Penghubung TR dan Anti TR

Tenaga gelombang radio yang dipancarkan oleh bagian pemancar (transmitter) dan tenaga gema pulsa yang kembali dari sasaran melalui antena ke bagian penerima (receiver) sama-sama melalui penghantar gelombang yang sama. Untuk mengatur penyaluran energi pulsa ke antena dan dari antena penerima tersebut dilakukan secara berganti-ganti dengan menggunakan penghubung (swich) elektronik (neon) yang dinamakan TR dan anti TR swich (TR = Transit and Receive). Penghubung TR bertugas mencegah pulsa-pulsa yang bertegangan tinggi dari pemancar masuk ke bagian penerima yang sensitif terhadap tegangan tinggi. dengan demikian TR mencegah penerima dari kerusakan dan mencegah hilangnya energi yang dipancarkan (bila masuk ke bagian penerima). Anti TR menyalurkan energi gema-gema pulsa ke bagian penerima dan mencegah masuknya energi ini ke bagian pemancar.

e)      Bagian penerima (receiver)

Memisahkan (mendeteksi) dan memperkuat energi yang diterima dari sasaran. Hasil deteksi selubung getaran radio ini diperkuat disalurkan ke bagian penguat gambar (video amplifier) lalu diteruskan ke bagian indikator atau PPI unit.

f)       Bagian PPI (Plan Position Indikator)

Kadang-kadang disebut juga sebagai display unit, fungsinya untuk memperlihatkan sasaran gambar yang terkena pancaran pulsa dan menentukan arah serta jarak sasaran dalam azimut PPI dilengkapi dengan Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube) dan rangkaian yang disebut dasar waktu (time base) yang mengatur panjang atau lamanya sweep sesuai dengan jarak lamanya waktu yang digunakan.

g)      Bagian Antena

Antena terdiri dari tiga bagian khusus yaitu :

  • Motor yang memutar antena
  • Servo atau sinkro sistem yang terdiri dari generator sinkro (servo).
  • Pada antena yang mengatur putaran gir mikro swit pada antena dan motor sinrkonnya pada putaran pembelok TSK.
  • Mikro swit gunanya untuk menunjukkan cahaya haluan (heading plas) kecuali antena yang berbentuk parabol itu, ketiga bagian ini biasanya ditempatkan dalam satu kotak yang disebut pedestal.

 

2.2.1.3  Prosedur Pengoperasian Radar

a)      Prosedur Menghidupkan (ON)

Pada prinsipnya prosedur penggunaan radar adalah sama untuk semua jenis radar dan prosedur penggunaan biasanya ada dalam buku manual operasi.

Sebelum memutar tombol utama dan tombol-tombol function pada posisi “ON” pastikan tombol-tombol pada panel radar berada pada posisi “OFF”/penuh berlawanan dengan arah jarum jam.

Setelah bagian tombol-tombol pada panel radar berada pada posisi sebagaimana di atas maka radar dapat kita hidupkan (pastikan bahwa antena dapat berputar dengan bebas). Kemudian dilanjutkan prosedur pengoperasian sebagai berikut :

  • Perhatikan setting jarak tidak terlalu pendek
  • Selaraskan kecerahan
  • Selaraskan fokus dengan memperhatikan gelang jarak
  • Selaraskan amplifikasi sampai berbentuk bintik-bintik kabur pada skrin
  • Set garis jarak pada kisaran jarak yang rendah dan gunakan pemilihan frekuensi secara otomatis.
  • Selaraskan penekanan gema laut untuk mendapatkan kontras yang baik
  • Set switch jarak sesuai keperluan dan selaraskan lagi switch fokus
  • Pastikan gambar berada di tengah-tengah
  • Set penanda haluan pada 0o atau pada haluan kapal sesuai tampilan yang akan digunakan.
  • Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum pengoperasian radar adalah:
  • Semua switch dalam kaeadan minimum
  • Kekuatan listrik yang betul
  • Pastikan tidak ada orang disekitar antenna atau antenna betul-betul bebas dari hambatan seperti tali atau benda lain yang akan mengganggu perputaran antena.

b)      Prosedur Mematikan (Off)

Bila radar tidak akan digunakan dalam periode waktu yang panjang, putar tombol function dan antena pada posisi Off selanjutnya tombol-tombol yang lain putar pada posisi sebelum diaktifkan.

 

2.2.1.4  Prinsip Kerja Radar

Seperti telah diketahui radar menggunakan prinsip pancaran gelombang radio dalam bentuk ‘microwave band’. Pulsa yang dihasilkan oleh unit pemancar (transmitter unit) dikirim ke antena melalui swich pemilih pancar/terima elektronik (T/R electronic switch). Pada saat pengiriman sinyal antena akan berputar 10 hingga 30 kali/menit dengan memancarkan denyutan/pulsa 500 hingga 3000 kali/detik. Ketika pemancaran, pulsa ini akan dipantulkan kembali apabila mengenai sasaran dalam bentuk gema radio (radio echo). Pulsa yang dipantulkan ini akan diterima kembali oleh antena dan dikirim ke unit penerima (receiver) melalui switch pemilih pancar/terima. Pulsa ini akan di kuatkan dan akan dideteksi dalam bentuk sinyal radio yang seterusnya dibesarkan lagi kekuatannya pada indicator.

Setiap kali gelombang elektrik dipancarkan, bintik-bintik putih akan terbentang dari pusat skrin/skop radar dengan kecepatan konstan dan akan membuat garis sapuan. Garis sapuan ini akan bergerak disekeliling pusat skop dan berputar searah jarum jam dimana putarannya selaras dengan putaran antena. Apabila sinyal video (video signal) digunakan dalam indikator, bintik putih diatas garis sapuan ini akan diubah kedalam bentuk gambar/bayang-bayang. Posisi gambar ini akan sejalan dengan arah gelombang elektrik yang dipancarkan serta jarak posisi gambar ini dengan pusat skop radar adalah berdasarkan jarak kapal dengan sasaran di suatu tempat. Dengan demikian posisi penerima sinyal kapal senantiasa berada di pusat skop pada tabung sinar katoda dan dikelilingi oleh objek/sasaran.

 

2.2.2        GPS

 

2.2.2.1 Pengertian GPS

GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Nama formalnya adalah NAVSTAR GPS kependekan dari NAVigation Satellite and Ranging Global Positioning System.

Dalam hal penentuan posisi, GPS dapat memberikan ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas. Dari yang sangat teliti sampai yang biasa- biasa saja. Ketelitian posisi yang diperoleh secra umum akan bergantung pada empat faktor, yaitu :

  • Metode penentuan posisi yang digunkan
  • Geometri dan distribusi dari satelit – satelit yang diamati.
  • Ketelitian data yang digunakan.
  • Strategi / metode pengolahan data yang diterapkan.

Selain memeberikan informasi tentang waktu, GPS juga dapat digunakan untuk mentransfer waktu dari satu tempat ke tempat lain. Ketelitian sampai beberapa nanodetik dapat diberikan oleh GPS untuk transfer waktu antar benua.

 

2.2.2.2 Pengoperasian GPS

GPS mempunyai beberapa macam (model) seperti VALSAT – 021, namun secara umum prinsip dasar pengoperasiannya adalah relative sama dan yang membedakannya adalah tipe dan merek GPS receiver yang bersangkutan. Prosedur pengoperasian GPS model VALSAT 021 adalah sebagai berikut.

a)      Menghidupkan Unit GPS

Sebelum menghidupkan GPS kita harus mengetahui posisi duga saat

pengoperasian. Secara prinsip pengoperasian GPS sangatlah mudah dengan urut-urutan sebagai berikut:

  • Tekan ON/ OFF untuk menghidupakn
  • Atur kecerahan cahaya dilayar tampilan
  • Untuk mematikan perangkat, tekan kunci ON /OFF selama 3 detik

b)     Mengoperasikan Navigator

1)      Self Localization

GPS dengan mudah dapat memberikan informasi mengenai posisi kita dipermukaan bumi disertai dengan waktu, dan kalender. GPS mencari sinyal satelit pertama, dan saat itu juga dipergunakan untuk pembaruan data tentang waktu dan kalender (update). Pencaraian sinyal–sinyal satelit ini dipergunakan untuk

memperbaharui data mengenai waktu dan kalender. Proses ini memerlukan waktu rata – rata 15 menit.

2)      Memasukan Posisi Perkiraan

Diperlukan waktu beberapa menit untuk mendapatkan posisi yang kemudian dimasukan sebagai posisi perkiraan.

  1. tekan kunci POS, kordinat Lat/Lon ditampilkan pada layar. POS 1 akan berkedip selama GPS tidak terkunci.
  2. Tekan kunci LNI, karakter pertama dari lat/ lintang akan berkedip
  • Tekan +/- untuk memilih Utara / Selatan ( N/ S )
  • Masukan data Lat / Lintang
  • Dilihat bahwa karakter pertama dari lon/ bujur apakah sudah berkedip.
  • Tekan +/- untuk memilih Timur / Barat ( E / W )

POS 1 berhenti berkedi saat GPS terkunci.

3)      Pemilihan sistem Geodesi

  • Tekan ( +/- ) menuju ketampilan fungsi kedua.
  • Tekan “6” untuk mendapatkan fungsi F6, kemudian ENT.
  • Tekan ? untuk memilih sistem Geodesi, kemudian ENT.

Setiap sistem geodesi memberikan perhitungan mengenai posisi lat/lon yang berbeda.

4)      Pengenalan tentang ketinggian antena

  • Tekan POS< POS 1 muncul dilayar tampilan.
  • Tekan ? untuk menampilkan POS 2.
  • Tekan ENT untuk memasukan data ketinggian antena dalam sistem. Yang dimaksud ketinggian disini adalah ketinggian antena terhadap rata – rata permukaan laut.

c)      Mendapatkan posisi

  • Tekan POS
  • POS 1 muncul dilayar tampilan.
  • Posisi ini selalu diperbaharui / dikoreksi setiap 1 detik.
  • XY atau XYZ menunjukan operasi dalam 2 atau 3 dimensi.
  • Indikator “POS 1 “ akan tetap saat GPS dikunci

d)     Menentukan Kecepatan dan Arah.

  • Tekan NAV
  • Nav 1 akan mumcul dilayar tampilan.
  • Baris pertama menunjukan kecepatan dalam knots.
  • Baris kedua menunjukan arah dalam derajat.

e)      Memasukan Titik Posisi (Waypoint)

  • Tekan WPT.
  • WPT 1 akan muncul dilayar tampilan
  • Masukan nomor titik posisi. Nomor ini ditampilkan pada baris kedua, di bawah huruf WPT
  • Tekan ENT

Karakter pertama untuk latitude (lintang) akan berkedip

(menandakan siap untuk memasukan data ).

  • Tekan +/- untuk pilihan N ( utara ) atau S ( selatan ).
  • Masukan koordinat lintang ( lititude )
  • Kemudian periksa, karakter pertama dari bujur ( longitude ) akan berkedip (menandakan siap untuk memasukan data)
  • Tekan +/- untuk pilihan E ( timur ) atau W ( barat )
  • Masukan koordinat bujur.
  • Tekan ENT.

f)       Pemberian nama setiap titik posisi (Waypoint)

  • Tekan WPT
  • WPT 1 akan muncul dilayar tampilan.
  • Tekan ?
  • Pilih nomor titik posisi ( waypoint )
  • Tekan ENT. Karakter pertama akan berkedip.
  • Tekan kunci (angka), yang berkenaan dengan huruf pertama dan tekan +/- untuk memilih huruf yang diinginkan.
  • Tulis sesuai yang dikehendaki.

g)      Menghapus titik posisi (waypoint ) dan namanya.

  • Tekan WPT.
  • WPT 1 akan muncul dilayar tampilan.
  • Masukan nomor titik posisi ( waypoint ).
  • Tekan ENT
  • Tekan Nav, sekarang posisi adalah

ü  00o 00’ 000N

ü  00o 00’ 000E

ü  dan namanya juga ikut terhapus.

  • Tekan ENT

h)     Memasukan koordinat saat ini kedalam titik posisi ( waypoint ) secara otomatis.

  • Tekan WPT
  • WPT 1 akan muncul dilayar
  • Masukan nomor titik posisi ( waypoint )
  • Tekan ENT POS ENT
  • Posisi saat ini secara otomatis tersimpan didalam titik posisi (waypoint) sesuai nomor waypoint yang kita isikan.

2.2.3        RDF

 

2.2.3.1  Pengertian RDF

RDF (Radio Direction Finder) adalah pesawat radio pencari arah yang dioperasikan melalui penerimaan gelombang elektromagnetik oleh pemancar yang dipancarkan oleh stasiun pemancar.

 

2.2.3.2 Prinsip Kerja RDF

Antena pesawat Radio Direction Finder (RDF) akan menerima gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh stasion pemancar. Oleh karena antena itu merupakan suatu penghantar yang baik maka gelombang elektromagnetik dari pemancar yang diterima oleh antena akan membangkitkan arus gelombang yang getarannya sama dengan getaran gelombang elektromagnetik dari pemancar.

Bila bidang bingkai antena searah dengan arah datangnya isyarat dari pemancar maka tegangan yang dijangkitkan dalam antena akan maksimum dan bila bidang bingkai antena diputar 90o tidak searah lagi dengan arah datangnya isyarat maka tidak ada tegangan yang terjangkit dalam antenna dan isyarat tidak akan terdengar isyarat yang diterima oleh antenna diteruskan ke kotak penerima dan arah pemancar akan berada pada suara yang terkeras. Karena petunjuk arah dihubungkan dengan antena maka arah datangnya isyarat dapat dibaca pada indikatornya.

Pada sistem dua bingkai, bingkai yang satu mengarah ke haluan dan buritan sedangkan yang lain ke sisi iri dan kanan pada kapal. Ujung masing-masing bingkai dihubungkan pada dua buah kumparan yang terpisahkan dan berkedudukan tegak lurus satu sama lain di dalam pesawat penerima. Bila pemancar berada antara dua bingkai itu maka kedua bingkai itu akan menghasilkan tegangan yang menimbulkan medan magnit. Tiap medan magnit akan menggambarkan sebagai vektor, jumlah vektor itulah menunjukkan arah tempat di mana pemancar berada.

 

 

 

2.2.3.2  Pengoperasian RDF

Menghidupkan atau mematikan dan mengoperasikan atau menggunakan

pesawat R.D.F pada prinsipnya sama dengan peralatan radio lainnya.

Cara menghidupkan :

  • Hubungkan pesawat dengan jala-jala listrik agar pesawat mendapat tenaga dengan menempatkan switch pada kedudukan ON.
  • Tunggu beberapa menit sampai pesawat mendapat panas yang cukup dan kemudian tempatkan power switch pada keduudkan yang dikehendaki menurut jumlah voltage yang masuk.
  • Tombol-tombol diatur pada kedudukan yang diperlukan untuk mendapat arah stasionnya.

Menggunakan pesawat R.D.F

Sebelum mengoperasikan/menggunakan pesawat R.D.F harus hafal namanama tombol serta kegunaannya. Hal ini adalah untuk memudahkan dalam mengoperasikannya.

  • Letakkan power switch pada kedudukan 1,2,3 menurut jumlah voltage yang masuk.
  • Letakkan sistem switch pada kedudukan receiver.
  • Tempatkan band switch pada band yang dikehendaki kalau untuk radio beacon tempatkan pada band 1 dan kalau untuk broad cast tempatkan pada band 2.
  • Letakan wave form switch menurut mode isyarat yang dikehendaki

(lihat kegunaan masing-masing kedudukan).

  • Carilah frekuensi gelombang radio yang akan dibaring dengan menggunakan tombol tuning.
    • Tombol auto frekuensi gain dan receiver frekuensi diatur sampai mendapatkan volume suara yang baik.
    • Apabila diagram angka delapan yang terlihat pada tabir terlampau pendek, maka tombil radius diatur pelan-pelan sampai panjang yang dikehendaki.
    • Dalam mendapatkan diagram angka delapan diusahakan sampai dapat membentuk satu garis lurus dengan menggunakan tombol fine control.

Cara mematikan :

Untuk mematikan RDF setelah digunakan maka tombol-tombol seperti AF gain, RF gain radius ditempatkan pada kedudukan minimum.

 

2.2.4        Echosounder

 

2.2.4.1  Definisi Echosounder

Sebuah echosounder ilmiah adalah perangkat yang menggunakan teknologi SONAR untuk pengukuran bawah air fisik dan biologis komponen-perangkat ini juga dikenal sebagai SONAR ilmiah. Aplikasi termasuk batimetri, klasifikasi substrat, studi vegetasi air, ikan, dan plankton, dan diferensiasi massa air.

Echosounder merupakan salah satu teknik pendeteksian bawah air. Dalam aplikasinya, Echosounder menggunakan instrument yang dapat menghasilkan beam (pancaran gelombang suara) yang disebut dengan transduser. Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air.

 

 

 

2.2.4.2  Bagian-Bagian Echosounder

  • Time Base

Time base berfungsi sebagai penanda pulsa listrik untuk mengaktifkan pemancaran pulsa yang akan dipancarkan oleh transmitter melalui transducer. Suatu perintah dari time base akan memberikan saat kapan pembentuk pulsa bekerja pada unit transmitter dan receiver.

  • Transmiter

Transmitter berfungsi menghasilkan pulsa yang akan dipancarkan. Suatucperintah dari kotak pemicu pulsa pada recorder akan memberitahukan kapan pembentuk pulsa bekerja. Pulsa dibangkitkan oleh oscillator kemudian diperkuat oleh power amplifier, sebelum pulsa tersebut disalurkan ke transducer

  • Transducer

Fungsi utama dari transducer adalah mengubah energi listrik menjadi energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan mengubah energi suara menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target. Selain itu fungsi lain dari transducer adalah memusatkan energi suara yang akan dipantulkan sebagai beam.

Pulsa ditransmisikan secara bersamaan oleh keempat kuadran tetapi sinyal diterima oleh masing-masing kuadran dan diproses secara terpisah. Keempat kuadran diberi label a – d. Sudut θ pada satu bidang dibedakan oleh perbedaan fase (a – b) dan (c – d), jumlah sinyal (a + c) dibandingkan dengan jumlah sinyal (b + d). Sudut φ di dalam bidang tegak lurus terhadap yang pertama adalah sama dibedakan oleh perbedaan fase antara (a + b) dan (c + d). Kedua sudut tersebut mendefinisikan arah target yang spesifik (MacLennan dan Simmonds, 2005).

Kesulitan yang dihadapi untuk mengeliminir faktor beam pattern dapat diatasi dengan menggunakan split beam method. Metode ini menggunakan receiving transducer yang dibagi menjadi 4 kuadran. Pemancaran gelombang suara dilakukan dengan full beam yang merupakan penggabungan dari keempat kuadran dalam pemancaran secara simultan. Selanjutnya, sinyal yang memancar kembali dari target diterima oleh masing-masing kuadran secara terpisah, output dari masing-masing kuadran kemudian digabungkan lagi untuk membentuk suatu full beam dengan 2 set split beam. Target tunggal diisolasi dengan menggunakan output dari full beam sedangkan posisi sudut target dihitung dari kedua set split beam.

Transducer dengan sistem akustik split beam ini pada prinsipnya terdiri dari empat kuadran yaitu Fore, Aft, Port dan Starboard transducer. Transducer split beam memiliki beam yang sangat tajam (100) dan mempunyai kemampuan menentukan posisi target dalam bentuk beam suara dengan baik yaitu dengan mengukur beda fase dari sinyal echo yang diterima oleh kedua belah transducer (Simrad, 1993).

  • Reciever

Receiver berfungsi menerima pulsa dari objek dan display atau recorder sebagai pencatat hasil echo. Sinyal listrik lemah yang dihasilkan oleh transducer setelah echo diterima harus diperkuat beberapa ribu kali sebelum disalurkan ke recorder. Selama penerimaan berlangsung keempat bagian transducer menerima echo dari target, dimana target yang terdeteksi oleh transducer terletak dari pusat beam suara dan echo dari target akan dikembalikan dan diterima oleh keempat bagian transducer pada waktu yang bersamaan

Split beam echosounder modern memiliki fungsi Time Varied Gain (TVG) di dalam sistem perolehan data akustik. TVG berfungsi secara otomatis untuk mengeliminir pengaruh attenuasi yang disebabkan oleh geometrical sphreading dan absorpsi suara ketika merambat di dalam air.

  • Recorder

Recorder berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo dan juga berperan sebagai pengatur kerja transmitter dan mengukur waktu antara pemancaran pulsa suara dan penerimaan echo atau recorder memberikan sinyal kepada transmitter untuk menghasilkan pulsa dan pada saat yang sama recorder juga mengirimkan sinyal ke receiver untuk menurunkan sensitifitasnya (FAO, 1983).

2.2.5        AIS

2.2.5.1  Pengertian AIS

Automatic Identification System ( AIS ) adalah sistem pelacakan kapal jarak pendek, digunakan pada kapal dan Stasiun Pantai untuk mengidentifikasi dan melacak kapal dengan menggunakan pengiriman data elektronik dengan kapal lainnya dan stasiun pantai terdekat. Informasi seperti identifikasi posisi, tujuan, dan kecepatan dapat ditampilkan pada layar komputer atau ECDIS ( Electronic Charts Display and Information System ).AIS ditujukan untuk membantu awak kapal dalam bernavigasi dan memungkinkan pihak berwenang maritim untuk melacak dan memantau gerakan kapal, Sistem AIS  terintegrasi dari  Radio VHF transceiver standar dengan Loran-C atau Global Positioning System ( GPS), dan dengan  sensor navigasi elektronik lainnya, seperti gyrocompass  dan lain-lain.Untuk aturannya AIS sendiri International Maritime Organization ( IMO ) sudah membuat  suatu aturan yaitu Regulation 19 of SOLAS Chapter V yang berisi tentang pemasangan AIS dimana  kapal-kapal diwajibkan untuk memasang perangkat AIS transponder terutama pada kapal penumpang, kapal tangker dan kapal berukuran 300 Gross Tonnage keatas. Peraturan tersebut juga memuat tentang keharusan AIS untuk menyediakan data informasi berupa  identitas kapal, jenis kapal, posisi, tujuan, kecepatan, status navigasi dan informasi lainnya yang berhubungan dengan keselamatan pelayaran.

 

AIS yang digunakan pada peralatan navigasi yang penting untuk menghindari dari kecelakaan akibat tabrakan. Karena keterbatasan dari kemampuan radio, dan karena tidak semua kapal yang dilengkapi dengan AIS, sistem ini berarti yang diutamakan untuk digunakan sebagai alat peninjau dan untuk menghindarkan resiko dari tabrakan daripada sebagai sistem pencegah tabrakan secara otomatis, sesuai dengan International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREGS).

Persyaratan AIS hanya untuk menampilkan dasar teks informasi, data yang berlaku dapat diintegrasikan dengan sebuah graphical electronic chart atau sebuah tampilan radar, menyediakan informasi navigasi gabungan pada sebuah tampilan tunggal.

 

Vessel Traffic Service

Saat perairan dan pelabuhan ramai, Vessel Traffic Service (VTS) boleh ada dalam mengatur lalu lintas kapal. Sekarang, AIS menyediakan kesadaran akan lalu lintas

tambahan dan menyediakan pelayanan dengan informasi tentang keberadaan kapal lain dan alur lintasannya.

 

 

Aids to Navigation

AIS telah berkembang dengan kemampuan dalam menyampaikan informasi mengenai posisi serta nama suatu kapal, yakni dapat melayani pengiriman pertolongan navigasi dan menandai posisi kapal. Bantuan ini dapat dilokasikan di pantai, misanya pada sebuah mercusuar, atau pada air, pada platform atau pelampung. Penjaga pantai Amerika Serikat (The US Coast Guard) mengusulkan bahwa AIS boleh diganti RACON, atau rambu radar, baru-baru ini digunakan untuk bantuan navigasi elektronik.

Kemampuan pada bantuan menyiarkan navigasi juga telah membuat konsep berupa Virtual AIS, disebut juga sebagai Synthetic AIS atau Artificial AIS. Istilah tersebut dapat diartikan 2 kasus; pada kasus pertama, sebuah transmisi AIS mendeskripsikan posisi nyata tetapi signalnya tersebut berasal dari sebuah lokasi penerima di tempat lain. Contohnya, pada stasiun pantai yang menyiarkan posisi, 10 floating channel markers, dimana masing-masing stasiun amat kecil untuk menampung penerima itu sendiri. Pada kasus kedua, hal tersebut dapat diartikan bahwa transmisi AIS mengindikasikan sebuah penandaan yang dimana tidak terlihat secara fisik, atau menyangkut sebuah penandaan suatu benda yang tidak terlihat (Karang di bawah permukaan laut atau kapal yang tenggelam).

 

Search and Rescue

Berfungsi untuk menentukan suatu posisi dalam pengoperasian Marine Search & Rescue, hal ini sangat berguna untuk mengetahui letak dan status navigasi dari suatu kapal atau orang yang membutuhkan pertolongan. Sekarang AIS dapat memberikan tambahan informasi dan sumber perhatian pada layar operasi, meskipun jarak AIS dibatasi pada jarak radio VHF. Standar AIS juga menginginkan pemakaian tepat pada SAR Aircraft dan memberikan sebuah pesan (AIS Message 9) untuk Aircraft pada keberadaan posisi. Kegunaan aircraft dan vessels SAR pada lokasi keadaan bahaya terdapat alat AIS-SART AIS Search abd Rescue Transmitter yang baru-baru ini sedang dikembangkan oleh International Electronical Commission (IEC), standar dijadwalkan untuk diselesaikan pada akhir tahun 2008 dan AIS-SART akan diperoleh di pasar mulai tahun 2009.

 

Binary Message

Saint Lawrence Seaway menggunakan pesan kembar atau dikenal dengan nama AIS binary message (message tipe 8) untuk memberikan informasi tentang level air, tata tertib pintu air, dan cuaca pada sistem kenavigasian itu sendiri.

 

Computing dan networking

Beberapa program computer telah dibuat untuk digunakan bersamaan AIS data. Beberapa program menggunakan sebuah computer untuk memodulasi pendengaran yang murni dari sebuah alat konvensional, marine VHF radio telephone, yang diperbaiki untuk AIS broadcast frequency (Channel 87 and 88) ke dalam AIS data. Beberapa program dapat mengirim ulang informasi AIS ke jaringan lokal atau global yang menyediakan otoritas pengguna atau publik untuk mengobservasi lalu lintas kapal dari suatu jaringan lainnya. Beberapa tampilan program data AIS dikirim dari sebuah pengirim resmi AIS ke dalam sebuah computer atau chartplotter. Kebanyakkan dari beberapa program tidak berupa AIS transmitter, oleh karenanya peralatan tersebut tidak akan memberitahu posisi kapal anda tetapi mungkin dapat digunakan sebagai alternative yang relatif murah bagi kapal kecil untuk memberikan bantuan navigasi dan menghindari tabrakan dengan kapal yang lebih besar yang diharuskan untuk memberitahu posisinya. Pemakai kapal juga menggunakan penerima (receiver) untuk menemukan dan mengontrol kapal dan menambahkan koleksi dokumen.

 

Concern over web-based data

Pada bulan desember 2004, IMO menyalahkan penggunaan data secara bebas yang tidak bertanggung jawab dengan pernyataan berikut.
Dalam hubungannya untuk mengumumkan ketersediannya informasi AIS secara gratis, data kapal yang dikembangkan pada website, publikasi pada website atau transnisi data AIS lainnya bisa mengancam keselamatan dan keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan dan menghambat usaha organisasi beserta anggotanya dal upaya meningkatkan keselamatan navigasi dan keamanan sector kelautan internasional.

 

2.2.5.2   Cara kerja AIS

Transponder AIS menayangkan informasi secara otomatis, seperti posisi, kecepatan, dan status navigasi pada interval waktu tertentu melalui transmitter VHF yang terpasang pada transponder. Informasi tersebut diambil langsung dari sensor navigasi kapal, khusussnya dari penerima GNSS dan gyrocompasnya. Informasi lain, seperi nama kapal dank kode pemanggil VHF di program ketika memasang peralatan juga ditransmisikan secara berkala. Sinyal tersebut diterima oleh transponder AIS yang dipasang papa kapal atau di darat bergantung pada sistemnya, seperti pada sistem VTS. Informasi yang diterima dapat ditampilkan pada sebua layar atau plot grafik yang menunjukkan posisi kapal lain dengan tampilan sesua yang terdapat pada layar radar.

Standar AIS menjelaskan 2 kelas unit AIS:

  • Kelas A, digunakan pada kapal-kapal yang tercantum dalam SOLAS Chapter V(dan kapal lain di beberapa negara)
  • Kelas B, menggunakan daya yang kecil, biaya yang relativ murah untuk penggunaan pasar non-SOLAS.

Varisai-variasi yang lain saat ini sedang dalam pengembangan dan di khususkan untuk penggunaan di stasiun, pertolongan navigasi darura dan SAR, yang mana peralatan tersebut akan menjadi pengganti dari peralatan sebelumnya.

Khusus untuk kelas A, transponder AIS ini terdiri dari sebuah transmitter VHF, 2 penerima VHF TDMA, satu penerima VHF DSC, penghubung menuju display dan sistem sensor menggunakan komunikasi elektronik berstandar maritime (seperti NMEA 0183, yang dikenal dengan IEC 61162). Pengalokasian waktu menjadi bagian yang sangat vital untuk proses sinkronisasi yang baik dan pemetaan untuk kelas A. Oleh karena itu, setiap unit diharuskan memiliki penerima GPS internal.

 


 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1  Kesimpulan

            Kesimpulan yang dapat diambil dalam penulisan ini yaitu, mengetahui jenis dan fungsi alat navigasi sangat penting, hal ini dikarenakan banyaknya bahaya navigasi yang dapat mengancam keselamatan pelayaran, dan untuk menghindarinya dibutuhkan pengetahuan tentang alat-alat navigasi untuk menentukan alat mana yang harus digunakan pada saat terjadi suatu bahaya navigasi.

            Beberapa fungsi alat navigasi pada paper ini adalah, GPS diperlukan untuk menentukan posisi kapal, Radar digunakan untuk melihat keadaan di sekitar kapal pada jarak yang sudah ditentukan sebelumnya, AIS digunakan untuk mengidentifikasi kapal yang sedang mendekati kapal kita, RDF untuk mencari arah gelombang radio dan dapat juga digunakan sebagai penanda pada kapal penangkap ikan.

 

3.2  Saran

Paper ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu dibutuhkan kritik dan saran sebagai masukan untuk penulis guna memperbaiki segala kekurangan yang ada pada penulisan ini.

MAKALAH PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP LONG LINE SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN

MAKALAH  PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP LONG LINE SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN

A. PENDAHULUAN

Dengan diproklamirkannya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI ) 200 mil dari batas perairan teritorial tanggal 21 Maret 1980, maka luas perairan Indonesia bertambah menjadi ± 5,8 juta Km2. Bertambah luasnya perairan Indonesia memberi harapan baru yang menguntungkan bagi perkembangan perikanan laut.

Potensi lestari sumberdaya hayati perikanan tuna di perairan teritorial dan ZEEI diperkirakan 258,8 ribu ton per tahun (Anonymus,1983 ). Bertambahnya potensi perikanan tuna dari ZEEI merupakan tantangan bagi kita untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya secara rasional.

Long Line merupakan salah satu alat tangkap yang efektif dan khusus ditujukan untuk menangkap ikan tuna, karena konstruksinya mampu menjangkau kedalaman renang ( Swimming layer ) dan sangat sesuai untuk dioperasikan di perairan ZEEI 200 mil.

B. PENGERTIAN

Long line adalah tali yang memanjang yang dimasukkan ke dalam laut, terdiri dari main line ( tali utama ) dan branch line ( tali cabang ) yang diikatkan pada tali utama tersebut. Tali cabang adalah tali sebagai cabang dari tali utama, yang menjorok ke dalam laut, dan di bawahnya digantungkan pancing – pancing yang diberi umpan.

C. KAPAL TUNA LONG LINE

Kapal untuk ikan tuna long line, termasuk jenis kapal untuk laut lepas. Hal itu dikarenakan daerah penangkapan ikan tuna ataupun jenis ikan tuna lainnya berada jauh dari lepas pantai, maka kemampuan kapal juga tergantung pada ukuran besar kecilnya kapal.

1. Kapal ikan tuna long line dilengkapi dengan mesin seperti

· Line hauler è Mesin untuk menarik tali dari laut

· Side roller è Roll dipakai ketika menarik tali dari laut

· Line roller è Mesin untuk membuang tali ke laut

· Branch reel è Mesin untuk menggulung tali cabang dari laut

2. Alat penangkapan ikan tuna

· Alat penangkapan ikan tuna terdiri dari tali utama, tali cabang, tali pelampung, pelampung dan pancing.

· Tali utama ( main line )

a Tali utama Tali ini adalah tali utama ( main line ) pada tuna long line

b Di tali utama dipasang tali cabang setiap 50 m

· Tali cabang ( branch line )

a Tali cabang ini adalah tali cabang pancing sepanjang 20 – 50 m

b Di ujung tali cabang dipasang mata pancing

· Tali pelampung ( buoy line )

a Tali ini adalah tali – tali untuk mengapungkan tali utama

b Tali ini menyambungkan pelampung dengan tali utama

c Mudah dipasang dan dicabut dengan tali utama karena ada snaph

· Pelampung ( float )

a Pelampung adalah alat untuk mengapungkan tali utama di laut

b Pelampung berbentuk bola plastik yang cukup besar

· Pelampung berlampu ( light buoy )

a Pelampung ini, pada malam hari digunakan untuk mencari posisi ujung tali tuna di laut.

b Diatas pelampung dipasang lampu tanda

· Mata pancing ( hook )

a Mata pancing dipasang diujung tali cabang

b Mata pancing ini memiliki kaitan supaya ikan yang telah memakan umpan tidak terlepas ( tetap terkait )

Tabel 1.1 Ukuran dari bagian – bagian Long Line

No. Nama Bagian Bahan Diameter

( mm )

Panjang

( m )

1. Tali Utama Polyester 6 – 6,5 50
2. Tali Cabang :

a. Snaph on

b. Tali cabang utama

c. Kili – Kili

d. Yoka

f. Pancing

Baja anti karat

Polyester

Kuningan & timah

Polyester

Baja dilapis timah

5,0

3,5

No . 28

3,3

No . 5 / 6

0,15

20

-

12,5

-

3. Tali Pelampung Polyester 6,5 30
4. Pelampung Plastik 300 -

 

D. PERSIAPAN PENANGKAPAN

1. Persiapan Berangkat.

Sebelum berangkat diperlukan waktu satu minggu untuk persiapan. Kapten harus betul – betul sudah merencanakan apa yang diharapkan dari hasil penangkapan itu dan menentukan untuk rencana pelayaran baru.

- Para ABK bersiap untuk memuat barang perbekalannya, selain itu juga para pegawai perusahaan perikanan yang di darat harus sudah memulai keperluan operasi pemancingan ikan dan barang – barang yang diminta dari anak buah kapal tersebut.

- Seiring perkembangan zaman dengan adanya teknologi canggih, baik mesin – mesin maupun peralatan penangkapan ikan yang semakin modern, begitu pula cara memesan barang atau memperbaiki peralatan yang rusak, cukup dengan memesan ke pabriknya langsung sebelum bertolak, dengan kata lain persiapan untuk bertolak waktunya semakin pendek.

- Bagi ABK, karena pelayaran long line ini jangka panjang, maka dapat membawa barang – barang pribadi yang diperlukan, selain itu saat ini alat komunikasi semakin canggih, untuk berhubungan dengan darat dapat dilakukan sewaktu – waktu.

2. Berlayar

Berkenaan dengan hasil laporan ke darat ( kantor pusat ) pada kapal ikan tuna jenis Long Line ini, semakin ditingkatkan kualitasnya. Persiapan alat pancing akan dimuat ke kapal, tidak perlu dikerjakan sendiri oleh ABK, maka bagi dirinya lebih enak. Hanya setelah sampai ke Daerah Penangkapan, ABK tinggal siap untuk memulai operasi memancing, jadi tidak perlu membenahi alat – alat pancingnya, dengan jalan ini jelas waktunya semakin hemat. Alat – alat ini semua umumnya telah disediakan oleh toko penjual alat – alat pemancingan, untuk itu berarti penanganan atau pemeliharaannya sedikit.

  1. Perijinan kapal

Untuk memenuhi persyaratan peraturan pelayaran, maka setiap kapal harus memenuhi standar kelayakan laut, guna menjamin keselamatan kapal serta untuk mengendalikan usaha perikanan melalui perijinan. Perijinan berfungsi untuk membina usaha perikanan dan memberikan kepastian usaha perikanan itu sendiri. untuk memenuhi ketentuan yang berlaku adapun persyaratan kelayakan laut kapal Long Line meliputi :

    • Ijin Usaha Perikanan ( IUP ) • Sertifikat Kesempurnaan
    • Surat Penangkapan Ikan ( SPI ) • Surat Tanda Kebangsaan
    • Surat Ijin Penangkapan Ikan ( SIPI ) • Surat Ukur
    • Surat ijin berlayar dari syahbandar • Sijil Awak Kapal
    • Sertifikat garis muat
  1. Perbekalan

Dibawah petunjuk dari Kapten dan Bosun semua ABK memuat umpan, alat – alat deck, alat – alat pancing dan air tawar.Fishing master secara langsung menentukan jumlah umpan dan jenisnya, ukuran dan kesegaran ikan. Pengisian air minum dilakukan pada saat bongkar di pelabuhan. Jumlah air minum yang dimuat kira – kira 15 – 45 ton.

Perbekalan yang harus disiapkan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan ke daerah fishing ground diantaranya :

· Umpan

· Fuel Oil dan Pelumas

· Perlengkqpqn alat tangkap cadangan

· Deck / engine supply

· Makanan dan Air tawar

· Obat – obatan

5. Persiapan lainnya

Melakukan pemeriksaan peralatan navigasi, teropong, mesin utama, alat pengganti ( suku cadang ), mesin pendingin, pompa, generator, perlengkapan, penangkapan dan lain –lain. Selain itu juga mempekerjakan orang untuk turun kapal, meyiapkan perlengkapan kesehatan, alat komunikasi, menentukan pasar dan lainnya.

E. FISHING GROUND TUNA LONG LINE

1. Prinsip fishing ground

Suatu perairan dapat dikatakan daerah penangkpan ikan ( fishing ground ) dari suatu alat, apabila alat itu dapat digunakan secara terus menerus dan menguntungkan. Dengan demikian fishing ground harus ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :

- Faktor adanya ikan ( musim ikan )

- Faktor jenis ikan yang ada dan dapat ditangkap dengan alat tersebut

- Faktor yang menguntungkan usaha penangkapan

- Faktor meteorologi dan oceanografi serta hal lain yang mempengaruhi

 

 

2. Sifat fishing ground

Sangat tergantung dari sasaran yang akan ditangkap, sasaran utama yakni tuna dan jenis ikan pelagis lainnya yang mempunyai sifat hampir sama dengan tuna. Migrasi jenis ini jauh lebih luas sehubungan dengan itu sifatfishing ground Tuna adalah :

- Perairan dalam dan berkadar garam tinggi ( diatas 30 o/00 )

- Perairan bersih terhindar dari pencemaran dan penyebaran luas

Sifat-sifat tersebut di perairan Indonesia terdapat di samudera Indonesia dan samudera Pasifik. Karena luasnya kita bagi menjadi :

o Daerah Andaman dan Nicobar

o Daerah sebelah barat pulau Sumatera

o Daerah sebelah selatan pulau Jawa

o Daerah Nusa Tenggara

o Daerah Samudera Tengah

o Daerah Australia Barat

3. Musim Ikan

Sepanjang tahun ikan tuna dapat ditangkap. Tetapi karena pengaruh temperatur air, iklim dan arus, maka terjadilah perbedaan musim ikan di berbagai daerah, sebagai berikut:

v Bulan Januari dan Agustus : Samudera Indonesia tengah

v Bulan Februari dan Maret : Sebelah barat pulau Sumatera

v Bulan April : Daerah Andaman dan Nicobar

v Bulan Mei, Oktober s/d Desember : Sebelah barat Australia

v Bulan Juni dan September : Nusa Tenggara

v Bulan Juli dan September : Sebelah selatan pulau Jawa.

F. OPERASI PENANGKAPAN

1. Bagian penting dalam operasi

a. Keadaan kapal saat setting

Fishing Master dan kapten di ruang kemudi mengemudikan kapal sambil memperhatikan, keamanan / keselamatan pada saat setting, kecepatan setting, adanya kapal lain dan jaraknya, lintasan tali pancing, laju kapal, suhu air, pusaran arus, burung laut, lumba – lumba dan kayu yang terbawa arus.

b. Pada saat memasang umpan

Hal yang perlu diperhatikan adalah pencarian umpan, pemasangan pada mata pancing ( biasanya ikan dikait pada bagian kepalanya ). Pada ikan kembung pada bagian punggung, urutan mata pancing, melepas gulungan tali cabang, dan memeriksa cacat pada setiap bagian tali cabang.

c. Radio – buoy dan lampu

Untuk penarikan saat tengah malam, pada tali utama ( main line ) dipasang lampu sebanyak 5 – 6 buah dan radio buoy sebanyak 12 – 13 buah.

3. Teknik Setting

a. Waktu setting

Setting dilaksanakan pukul 2 – 3 pagi. Tali yang di setting terlebih dahulu adalah tali cabang untuk perairan laut dalam. Lama settingkira –kira 5 jam. Panjang tali utama mencapai 100 mil.

b. Pada saat sebelum setting

Pekerjaan setting dilakukan secara berurutan seperti, mengeluarkan umpan dari palka, mencairkan umpan, mulai menjalankan mesin, mengukur kedalaman air ( menggunakan alat yang dioperasikan di ruang kemudi ), menyambung antar bagian pancing dari main line kebranch line, memasang snaph, bola tali, memasang umpan pada mata pancing, memasang pelampung di tali bola, radio buoy dan mempersiapkan lampu, serta pembagian kerja diatur olehFishing Master dan Bosun.

Tali cabang untuk perairan laut dalam dipisahkan di sisi kapal dan tali yang akan dipakai diletakkan di bagian sebelah kiri. Bola yang tidak dipakai dan yang tidak berhubungan dengan tali yang dipasang dikumpulkan di atas ruang kemudi. Pemasangan bola diameter 30 cm dilakukan setelah pemasangan 4 buah bola diameter 20 cm.

4. Teknik Hauling

a. Waktu hauling

Untuk pengoperasian haulingdimulai kira – kira jam 12 siang. Lamanya hauling antara 12 – 18 jam.

b. Saat hauling

Sambil menggulung main lineperlu diperhatikan, arah bentangan tali, keadaan hasil tangkapan dan pemotongan tali yang kusut jika diperlukan.

- Dilakukan pengaturan dan pengawasan tempat penyimpanan main line

- Penggunaan mesin pengumpulmain line

- Melepas snaph

- Mengatur kembali tempat penyimpanan alat – alat

- Mengatur penggunaan tempat bola

- Membetulkan tali cabang, mengganti mata pancing, serta membetulkan tali yang kusut.

G. CARA MEMASANG UMPAN

1. Jenis umpan :

Pada penangkapan dengan long line mengenai masalah umpan sangatlah menentukan jumlah hasil tangkap. Oleh karena itu perlu perhatian yang sebaik – baiknya, perlu kita ketahui bahwa ikan tuna dan sejenis ikan pelagis lainnya tidak suka umpan dalam bentuk irisan.

Ikan pelagis tujuan penangkapan adalah jenis ikan perenang cepat dan memiliki kebiasaan memburu mangsa. Untuk memberi kesan bahwa umpan kita itu ikan hidup, maka diusahakan menyediakan umpan dalam bentuk utuh, segar dan tidak rusak. Walaupun tidak dapat memenuhi semua syarat sebagai umpan, jenis umpan Long Line antara lain :

Ø Cumi – cumi ( terbaik tapi harganya mahal, jumlahnya terbatas )

Ø Sarden / lemuru, memiliki leher pendek dan kurang kuat

Ø Ikan Terbang ( jumlah terbatas dan sulit diperoleh )

Ø Mackerel tuna ( tongkol kecil ), lehernya kuat dan keras.

2. Cara memasang umpan

Pemasangan umpan pada long line berbeda dengan line fishinglainnya. Prinsip kerja cara pemasangan umpan yang benar menjaga agar umpan tidak terlalu rusak dan menyangkut dengan kuat.

Untuk menghasilkan cara pemasangan yang baik, maka terdapat beberapa cara bagian umpan yang terkait pancing, antara lain :

1. Mata tembus mata

2. Kepala bagian bawah atau atas segaris dengan tutup insang

3. Bagian bawah sirip dada tembus sebelah menyebelah

4. Bagian ekor

Pemilihan cara pemasangan umpan yang benar diharapkan :

ü Umpan terkait kuat, karena umpan tergantung dengan menahan arus, ikan umpan melekat kuat.

ü Umpan dapat melambai lebih baik, untuk memberi kesan bahwa umpan itu ikan hidup bebas.

3. Kecepatan memasang umpan

Umpan dipasang pada waktu itu juga, saat akan dilempar kelaut. Berdasarkan pengalaman kecepatan rata – rata tiap jam dapat menurunkan ± 500 pancing . Berarti tiap satu menit harus dapat memasang umpan antara 8 – 10 pancing.

4. Syarat umpan

  1. Ditinjau dari segi teknis :

Ø Terdiri dari satu ikan utuh

Ø Warna kontras, mengkilat ( hitam, putih atau disesuaikan dengan warna isi perut ikan tuna atau sejenisnya )

Ø Panjang antara 15 – 25 cm, lebar 2 – 5 cm

Ø Leher kuat dan daging ulet

Ø Mempunyai bau segar yang menyolok.

  1. Ditinjau dari segi ekonomis

Ø Mudah didapat dalam jumlah banyak

Ø Harganya murah

Ø Perawatan gampang dan mudah

H. HASIL TANGKAPAN

Jenis Ikan Tuna yang tertangkap dengan Long Line :

- Tuna Mata Besar ( big eye tuna)

1. Badannya agak besar pendek gemuk. Yang besar dapat mencapai 2 meter dan beratnya 200 kg.

2. Matanya agaknya besar.

- Madidihang ( yellow fin tuna )

1. Badannya tidak gemuk seperti tuna mata besar

2. Panjangnya mencapai 1,8 meter dan beratnya 100 kg

3. Sirip dada dan sirip punggung berwarna kuning

- Tuna sirip biru ( blue fin tuna )

1. Panjangnya mencapai 1,6 meter dan beratnya 300 kg

2. Warna badan bagian atas biru kehijauan

- Albakora ( albacore )

1. Tergolong tuna kecil. Dapat mencapai panjang kurang lebih 1 meter dan berat 15 kg ­

2. Sirip dada cukup panjang

- Ikan pedang ( sword fish )

1. Dapat mencapai panjang sampai 4,5 meter dan berat 500 kg

2. Rahang atas tumbuh panjang sekali dan gepeng

3. Badannya bulat

- Setuhuk ( marlin )

1. Panjang mencapai 4 meter dan berat 600 kg

- Ikan layaran ( sail fish )

1. Panjang dapat mencapai 3 meter dan berat 400 kg

2. Tidak memiliki sisik

I. PENANGANAN IKAN TUNA

1. Mengenal Ikan Tuna.

Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai tambah yang cukup berarti dipasaran ikan Internasional. Hal ini terbukti dengan adanya permintaan tuna segar dipasaran Jepang yang mencapai 250 – 350 ton per hari, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi Indonesia yang mempunyai potensi lestari khusus untuk ikan tuna sebesar 258,8 ribu ton / tahun.

Adapun jenis – jenis tuna segar yang diekspor adalah : Big – eye tuna ( Thunnus obesus ), Yellow fin tuna ( Thunnus albacares ).

Selanjutnya, guna mendukung ekspor tuna segar menjadi produk yang bermutu baik, maka semenjak ikan tertangkap sampai pada tangan konsumen, mutu kesegarannya harus dijaga dengan tetap mempertahankan suhu ikan berkisar 1- 2,5 C, atau selalu dalam keadaan di es.

2. Penanganan ( handling )tuna segar

Dalam hal ini ada 2 cara penanganan dengan peng-Es-an biasa ( Chiling ), kedua dengan sistim Pendinginan Air Laut ( Refrigerated Sea Water ) yang sering terdapat pada kapal – kapal penangkapan.

Urutan penanganan dapat dilakukan sebagai berikut :

- Penyiapan palkah dan deck kapal, dengan cara membersihkannya terlebih dahulu.

- Pada saat ikan telah naik di atas kapal, maka harus dikerjakan secara hati – hati baik saat melepas mata pancing maupun meletakannya di atas deck, dan hindari luka – luka atau memar tubuhnya.

Bila masih hidup dapat dimatikan terlebih dahulu dengan menusukan marlin / spike tepat pada bagian otak di kepala.

- Buka salah satu tutup insang, lalu buang lapisan – lapisan insang dengan cara dipotong dengan pisau.

- Keluarkan isi perut melalui rongga insang. Untuk mempermudah penarikan isi perut maka bagian anus disobek sepanjang ± 3 cm. Sehingga usus yang menempel pada anus dapat tercabut dengan mudah.

- Cuci bersih rongga insang dengan perut, juga bagian luar tubuh ikan dengan air laut.

- Pada cara peng-Es-an biasa ( Chiling ) rongga insang dan rongga perut diisi dengan butiran Es ( Es Curai ) , kemudian disimpan di palkah dengan jalan menyelimuti tubuh ikan dengan butiran – butiran Es.

- Pada cara RSW ( Refrigerated Sea Water ), ikan yang telah dibersihkan / dibungkus dengan karung / goni atau plastik, dan selanjutnya disimpan dalam palkah.

Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghindari rusaknya tubuh ikan oleh benturan dengan dinding palkah, atau sesama ikan itu sendiri. Sistem ini diterapkan pada kapal penangkapan yang telah dilengkapi dengan peralatan Refrigasi.

3. Perlakuan Ikan Tuna Ditempat Penampungan.

- Lembaran karung / goni dihampar di atas geladak kemudian disemprot dengan air dari dalam palkah ( air pendingin ikan ).

- Ikan Tuna diangkat ke atas geladak, karung pembungkus dilepas, dan ikan disimpan di atas hamparan karung basah sambil dicuci.

- Selanjutnya ikan diletakan di atas kereta dorongan, dan ditutup dengan karung basah agar tidak terkena sinar matahari, lalu diangkat ke tempat penampungan.

- Pada tempat penampungan, Tuna terlebih dahulu disimpan dalam bak Fibre Glass yang berisi air es.

4. Pengujian Organoleptik

Uji Organoleptik dikerjakan langsung oleh tim dari perusahaan importir. Pemeriksaan dilaksanakan dengan kriteria – kriteria sebagai berikut : keadaan rupa ikan, tekstur daging ( kekenyalan ), bau, rasa daging, dan sayatan jaringan daging.

5. Pengepakan ( Packing )

· Sebelum dikemas terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan guna membuang sisa – sisa isi perut dan insang.

· Ikan Tuna dipak dengan cara ditempatkan dalam posisi terlentang pada bagian rongga insang dan rongga perut serta dekat bagian ekor diberi es yang telah dibungkus dalam plastik.

J. TEKNIK NAVIGASI

1. Menjalankan instrument nautika

Alat navigasi yang terdapat di kapal Long Line diantaranya :

Ø Gyro compass

Ø Auto pilot

Ø Radar

Ø GPS

Ø Wireless phone

Ø Fish finder / Echosounder

Dan alat Oceanografi diantaranya :

Ø Termometer

Ø Current meter

Semua alat tersebut dipakai untuk mengetahui kedalaman ikan, posisi kapal, suhu air laut dan keadaan arus.

2. Observasi

Pengamatan cuaca dan laut pada saat berlayar dilakukan oleh orang bagian deck. Pengamatan untuk berlayar dilakukan 1 kali pada waktu berlayar. Pengamatan keadaan laut untuk mendapatkan informasi pada saat berlayar serta cara mengemudikan kapal yang aman, dimaksudkan untuk meningkatkan kehandalan kerja bagi juru mudi, fishing masterdan perwira deck. Keadaan cuaca pada saat masuk pelabuhan dan saat operasi, memilih daerah penangkapan, keselamatan navigasi dan saat masuk – keluar pelabuhan.

3. Penjaga saat berlayar, keselamatan operasi dan pelayaran

Semua pengetahuan penggunaan alat navigasi dan oceanografi ini sangat penting untuk dimengerti guna keamanan berlayar melalui praktek navigasi dan kapal. Khususnya pengumpulan informasi dan pengamatan meteorologi dan fenomena laut pada saat cuaca buruk dan pelayaran malam hari menjadi ketentuan penting untuk menambah pengalaman praktek. Perjalanan kapal secara aman dilakukan dengan petunjuk kapten.

 

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB AWAK KAPAL

Struktur Organisasi Pada Kapal

Struktur organisasi kapal terdiri dari seorang Nakhoda selaku pimpinan umum di atas kapal dan Anak Buah kapal yang terdiri dari para perwira kapal dan non perwira/bawahan (subordinate crew).

Struktur organisasi kapal diatas bukanlah struktur yang baku, karena tiap kapal bisa berbeda struktur organisaninya tergantung jenis, fungsi dan kondisi kapal tersebut. Selain jabatan-jabatan tersebut dalam contoh struktur organisasi kapal diatas, masih banyak lagi jenis jabatan di kapal, diluar jabatan Nakhoda.
Misalnya di kapal pesiar ada jabatan-jabatan Bar-tender, cabin-boy, swimming-pool boy, general purpose dan lain sebagainya. Dikapal lain misalnya terdapat jabatan juru listrik (electrician), greaser dan lain sebagainya. Semua orang yang mempunyai jabatan di atas kapal itu disebut Awak kapal, termasuk Nakhoda, tetapi Anak kapal atau Anak Buah Kapal (ABK) adalah semua orang yang mempunyai jabatan diatas kapal kecuali jabatan Nakhoda.

 

Untuk kapal penangkap ikan masih ada jabatan lain yaitu Fishing master, Boy-boy (pembuang umpan, untuk kapal penangkap pole and Line (cakalang), dlsb.

 

TUGS DAN TANGGUNG JAWAB

 

  1. 1.      Master / Nahkoda

UU. No.21 Th. 1992 dan juga pasal 341.b KUHD dengan tegas menyatakan bahwa Nakhoda adalah pemimpin kapal, kemudian dengan menelaah pasal 341 KUHD dan pasal 1 ayat 12 UU. No.21 Th.1992, maka definisi dari Nakhoda adalah sebagai berikut:

“ Nakhoda kapal ialah seseorang yang sudah menanda tangani Perjanjian Kerja Laut (PKL) dengan Pengusaha Kapal dimana dinyatakan sebagai Nakhoda, serta memenuhi syarat sebagai Nakhoda dalam arti untuk memimpin kapal sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku “ Pasal 342 KUHD secara ekplisit menyatakan bahwa tanggung jawab atas kapal hanya berada pada tangan Nakhoda, tidak ada yang lain. Jadi apapun yang terjadi diatas kapal menjadi tanggung jawab Nakhoda, kecuali perbuatan kriminal.

Misalkan seorang Mualim sedang bertugas dianjungan sewaktu kapal mengalami kekandasan. Meskipun pada saat itu Nakhoda tidak berada di anjungan, akibat kekandasan itu tetap menjadi tanggung jawab Nakhoda. Contoh yang lain seorang Masinis sedang bertugas di Kamar Mesin ketika tiba-tiba terjadi kebakaran dari kamar mesin. Maka akibat yang terjadi karena kebakaran itu tetap menjadi tanggung jawab Nakhoda. Dengan demikian secara ringkas tanggung jawab Nakhoda kapal dapat dirinci antara lain :

  1. Memperlengkapi kapalnya dengan sempurna
  2. Mengawaki kapalnya secara layak sesuai prosedur/aturan
  3. Membuat kapalnya layak laut (seaworthy)
  4. Bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran
  5. Bertanggung jawab atas keselamatan para pelayar yang ada diatas kapalnya
  6. Mematuhi perintah Pengusaha kapal selama tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku

Jabatan-jabatan Nakhoda diatas kapal yang diatur oleh peraturan dan perundang-undangan yaitu :

  1. Sebagai Pemegang Kewibawaan Umum di atas kapal. (pasal 384, 385 KUHD serta pasal 55 UU. No. 21 Th. 1992).
  2. Sebagai Pemimpin Kapal. (pasal 341 KUHD, pasal 55 UU. No. 21 Th. 1992 serta pasal 1/1 (c) STCW 1978).
  3. Sebagai Penegak Hukum. (pasal 387, 388, 390, 394 (a) KUHD, serta pasal 55 No. 21 Th. 1992).
  4. Sebagai Pegawai Pencatatan Sipil. (Reglemen Pencatatan Sipil bagi Kelahiran dan Kematian, serta pasal 55 UU. No. 21. Th. 1992).
  5. Sebagai Notaris. (pasal 947 dan 952 KUHPerdata, serta pasal 55 UU. No. 21, Th. 1992).

1. Nakhoda sebagai Pemegang Kewibawaan Umum
Mengandung pengertian bahwa semua orang yang berada di atas kapal, tanpa kecuali harus taat serta patuh kepada perintah-perintah Nakhoda demi terciptanya keamanan dan ketertiban di atas kapal. Tidak ada suatu alasan apapun yang dapat dipakai oleh orang-orang yang berada di atas kapal untuk menentang perintah Nakhoda sepanjang perintah itu tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan. Aetiap penentangan terhadap perintah Nakhoda yang demikian itu merupakan pelanggaran hukum, sesuai dengan pasal 459 dam 460 KUH. Pidana, serta pasal 118 UU. No.21, Th. 1992. Jadi menentang perintah atasan bagi awak kapal dianggap menentang perintah Nakhoda karena atasan itu bertindak untuk dan atas nama Nakhoda.

2. Nakhoda sebagai Pemimpin Kapal

Nakhoda bertanggung jawab dalam membawa kapal berlayar dari pelabuhan satu ke pelabuhan lain atau dari tempat satu ke tempat lain dengan selamat, aman sampai tujuan terhadap penumpang dan segala muatannya.

3. Nakhoda sebagai Penegak Hukum

Nakhoda adalah sebagai penegak atau abdi hukum di atas kapal sehingga apabila diatas kapal terjadi peristiwa pidana, maka Nakhoda berwenang bertindak selaku Polisi atau Jaksa. Dalam kaitannya selaku penegak hukum, Nakhoda dapat mengambil tindakan antara lain :

  1. - menahan/mengurung tersangka di atas kapal
  2. - membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
  3. - mengumpulkan bukti-bukti
  4. - menyerahkan tersangka dan bukti-bukti serta Berita Acara

Pemeriksaan (BAP) pada pihak Polisi atau Jaksa di pelabuhan pertama yang disinggahi.

4. Nakhoda sebagai Pegawai Catatan Sipil

Apabila diatas kapal terjadi peristiwa-peristiwa seperti kelahiran dan kematian maka Nakhoda berwenang bertindak selaku Pegawai Catatan Sipil. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan Nakhoda jika di dalam pelayaran terjadi kelahiran antara lain :

  1. Membuat Berita Acara Kelahiran dengan 2 orang saksi (biasanya Perwira kapal)
  2. Mencatat terjadinya kelahiran tersebut dalam Buku Harian Kapal
  3.  Menyerahkan Berita Acara Kelahiran tersebut pada Kantor Catatan Sipil di pelabuhan pertama yang disinggahi Jikalau terjadi kematian :
    1. Membuat Berita Acara Kematian dengan 2 orang saksi (biasanya Perwira kapal)
    2. Mencatat terjadinya kematian tersebut dalam Buku Harian Kapal
    3. Menyerahkan Berita Acara Kematian tersebut pada Kantor Catatan Sipil di pelabuhan pertama yang disinggahi
    4. Sebab-sebab kematian tidak boleh ditulis dalam Berita Acara
      Kematian maupun Buku Harian Kapal, karena wewenang membuat visum ada pada tangan dokter Apabila kelahiran maupun kematian terjadi di luar negeri, Berita Acaranya diserahkan pada Kantor Kedutaan Besar R.I. yang berada di negara yang bersangkutan.

Tugas seorang Master atau nahkoda  adalah untuk mengatur seluruh Perwira dan ABK kapal agar mereka bekerja sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh ISM Code dari Perusahaaan Perkapalan.

  1. 2.     Tugas Mualim I
    1. Mualim I adalah kepala dari dinas deck (geladak) dan pula membantu nahkoda dalam hal mengatur pelayanan di kapal jika kapal tidak punya seorang penata usaha atau jenang kapal.
    2.  Dinas geladak

ü  Pemeliharaan seluruh kapal kecuali kamar mesin dan ruangan-ruangan lainnya yang dipergunakan untuk kebutuhan dinas kamar mesin.

ü   Muat bongkar muatan di palka-palka dan lain-lain.

ü   Pekerjaan-pekerjaan administrasi yang berhubungan dengan pengangkutan muatan, bagasi pos dan lain-lain.

  1.  Pengganti Nahkoda Pada waktu nahkoda berhalang maka Mualim I memimpin kapal atas perintahnya.
  2.  Mualim I harus mengetahui benar peraturan-peraturan dinas perusahaan dan semua instruksi-instruksi mengenai tugas perwakilan, pengangkutan dan lain-lain.
  1. 3.     Tugas Mualim II

Tugas mualim II disamping tugas jaga laut atau bongkar muat :

  1.  Memelihara (termasuk melakukan koreksi-koreksi) serta menyiapkan peta-peta laut dan buku-buku petunjuk pelayaran.
  2.  Memelihara dan menyimpan alat-alat pembantu navigasi non elektronik    (sextant dsb); setiap hari menentukan chronometer’s error berdasarkan time signal.
  3. Bertanggung jawab atas bekerjanya dengan baik pesawat pembantu navigasi elektronik (radar, dsb)
  4. Memelihara Gyro Kompas, berikut repeatersnya serta menyalakan/mematikannya atas perintah nahkoda, bertanggung jawab atas pemeliharaan autopilot.
  5. Memelihara magnetic kompas serta bertanggung jawab pengisian kompas error register book oleh para mualim jaga.
  6.  Mengisi/mengerjakan journal chronometer dan journal-journal pesawat-pesawat pembantu navigasi yang disebutkan pada c dan d.
  7.  Bertanggung jawab atas keadaan baik lampu-lampu navigasi, termasuk lampu jangkar dan sebagainya, serta lampu semboyan Aldis.
  8.  Membuat noon position report.
  9.  Bertanggung jawab atas jalannya semua lonceng-lonceng di kapal dengan baik
  10.  Bertanggung jawab atas penerimaan, penyimpanan, pengiriman, dan administrasi barang-barang kiriman (paket) serta pos.
  1. 4.     Tugas Mualim III

Tugas mualim III disamping tugas jaga laut/bongkar muat :

  1.  Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan kelengkapan life boats, liferafts, lifebuoys serta lifejackets, serta administrasi.
  2.  Bertanggung jawab pemeliharaan, kelengkapan dan bekerjanya dengan baik dari botol-botol pemadam kebakaran, alat-alat pelempar tali, alat-alat semboyan bahaya (parachute signal, dsb), alat-alat pernafasan, dll, serta administrasinya.
  3.  Membuat sijil-sijil kebakaran, sekoci dan orang jatuh kelaut, dan memasangnya ditempat-tempat yang telah ditentukan.
  4.  Memelihara dan menjaga kelengkapan bendera-bendera (kebangsaan, bendera-bendera semboyan internasional, serta bendera perusahaan).
  5.  Mengawasi pendugaan tanki-tanki air tawar/ballast dan got-got palka serta mencatatnya dengan journal.
  6.  Membantu mualim II dalam menentukan noon position.
  7. 5.     Tugas Mualim IV

Disamping tugas jaga laut/bongkar-muat:

  1.  Pekerjaan administrasi muatan.
  2.  Membantu mualim III dalam pemeliharaan inventaris, pemeliharaan sekoci-sekoci dan alat pelampung dan lain-lain.
  3.  Membantu nahkoda di anjungan.

 

  1. 6.     Markonis/Radio Officer/Spark

Markonis/Radio Officer/Spark bertugas sebagai operator radio/komunikasi serta bertanggung jawab menjaga keselamatan kapal dari marabahaya baik itu yg di timbulkan dari alam seperti badai, ada kapal tenggelam, dll.

  1. 7.     Ratings atau Bawahan Bagian dek:

1. Boatswain atau Bosun atau Serang (Kepala kerja bawahan)

2. Able Bodied Seaman (AB) atau Jurumudi

3. Ordinary Seaman (OS) atau Kelasi atau Sailor

4. Pumpman atau Juru Pompa, khusus kapal-kapal tanker (kapal pengangkut cairan)

  1. 8.     Chief Engineer (C / E)

Chief Engineer (C/E) adalah di-charge dari departemen mesin, dia melaporkan       ke Master (sehari-hari kegiatan) dan Technical Manager-Comapany                          (kegiatan teknis). Tanggung Jawabnya adalah :

  1.  Memastikan bahwa semua personil departemen mesin dibiasakan dengan prosedur yang relevan.
  2. Mengeluarkan perintah yang jelas dan ringkas untuk insinyur dan lain-lain di departemen mesin.
  3. Sesuaikan jam tangan ruang mesin untuk memastikan bahwa semua menonton penjaga cukup beristirahat dan cocok untuk tugas.
  4. Pastikan bahwa awak departemen mesin menjaga disiplin, kebersihan dan mengikuti praktek kerja yang aman.
  5. Evaluasi junior dan laporan kinerja kepada Master.
  6. Mengidentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan operasi mesin dan bertindak sesuai untuk menghilangkan mereka.
  7.  Selidiki ketidaksesuaian dan menerapkan tindakan korektif dan preventif.
  8.  Menjaga stand by peralatan dan sistem dalam ‘Selalu-Siap-Untuk-Gunakan’ negara.
  9.  Uji stand by peralatan dan sistem secara teratur dan sesuai dengan prosedur Perusahaan.
  10.  Pastikan mesin yang kapal dan peralatan dipelihara sesuai jadwal.
  11.  Jadilah pada tugas dan mengendalikan engine selama manuver dan selama   memasuki / meninggalkan pelabuhan.
  12. Jika pesawat Insinyur Keempat adalah tidak memegang sertifikat kompetensi yang diperlukan, menjaga 08:00-0:00 menonton ruang mesin.
  13. Mencoba untuk memperbaiki semua kerusakan mungkin menggunakan kru dan fasilitas onboard, jika permintaan tidak yg dpt diperbaiki untuk bantuan pantai.
  14. Setiap bulan, melaporkan semua cacat (diperbaiki / tidak diperbaiki) kepada Perusahaan (melalui Guru).
  15. Guru menyarankan sebelum semua persyaratan toko mesin dan suku cadang.
  16. Mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh workshop pada mesin dan peralatan.
  17. Pastikan bahwa buku catatan mesin dipelihara dengan baik.
  18. Efisien mengoperasikan dan memelihara semua mesin dan peralatan kapal, terutama yang berkaitan dengan pencegahan keselamatan dan polusi.
  19. Efisien mengoperasikan mesin utama selama perjalanan.
  20. Pastikan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk mencegah / mengurangi emisi asap dari kapal.
  21.  Terus memantau dan mengevaluasi penggerak utama dan mesin bantu, membandingkan mereka dengan catatan percobaan dan menginformasikan Perusahaan dari setiap penyimpangan besar.
  22. Pastikan bahwa semua peralatan keselamatan dalam keadaan baik.
  23. Memelihara catatan dari semua rutin dan pemeliharaan tak terjadwal sesuai dengan persyaratan kode dan prosedur Perusahaan.
  24. Order dan batang bungker, dan mengawasi operasi pengisian bahan bakar.
  25. Efektif mengontrol pemanfaatan dan toko suku cadang dan mempertahankan persediaan yang tepat dari semua item.
  26. Orde suku cadang dan toko (termasuk minyak pelumas) untuk departemen mesin.
  27. Pribadi langsung pemeliharaan crane kargo, penyejuk udara, tanaman pendingin dan pemisah minyak-air.
  28. Memantau pemeliharaan kamar dingin, AC dan mesin terkait lainnya.
  29. Segera memberitahukan kepada Guru cacat yang dapat mempengaruhi keselamatan kapal atau menempatkan lingkungan laut beresiko.
  1. 9.     Tugas Masinis I

2/ E laporan ke C / E. Dalam ketiadaan C / E, 2 / E mungkin diperlukan untuk memimpin sebagai C / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu dari DPA. Tanggung Jawab

  1.  Jauhkan pukul 04:00-8:00 mesin menonton kamar.
  2. Mengatur kegiatan pemeliharaan dalam konsultasi dengan C / E.
  3. Mengalokasikan pemeliharaan dan perbaikan untuk insinyur, dan mengawasi yang sama.
  4. Benar menjaga buku catatan ruang mesin.
  5. Memantau jadwal pemeliharaan untuk mesin utama, mesin bantu, kompresor, pembersih, pompa dan peralatan lainnya.
  6. Co-ordinat dengan Electrical Engineer dan memastikan bahwa ia memelihara catatan yang tepat pemeliharaan mesin di bawah tanggung jawabnya.
  7. Pastikan bahwa ruang mesin yang bersih dan bebas dari residu berminyak.
  8. Membantu C / E dalam mempertahankan persediaan suku cadang, toko habis onboard.
  9. Pastikan insinyur dan peringkat bekerja sesuai dengan prosedur perlindungan keselamatan dan lingkungan.
  10. Mengevaluasi junior dan laporan kinerja ke C / E.
  11. Mengambil alih menonton dan kontrol dari ruang mesin selama manuver kapal, terutama saat memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan bagian dibatasi.
  12. Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi).
  1. 10.                        Tugas Masinis 2 (2 / E)

2 / E laporan ke C / E (melalui 1 / E).

Dalam ketiadaan dari 1 / E, 2 / E mungkin diperlukan untuk memimpin sebagai   1 / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu dari DPA. Tanggung Jawabnya yaitu :

  1. Jauhkan pukul 12:00-4:00 mesin menonton kamar.
  2. Benar menjaga tambahan mesin, generator air tawar, mesin kerek, peralatan tambat, sekoci motor, darurat kompresor, pompa kebakaran darurat dan insinerator.
  3. Menganalisis air dan pengolahan kimia untuk pendingin mesin sistem air utama.
  4. Melakukan pemeliharaan preventif pemadam kebakaran dan peralatan keselamatan dalam ruang ruang mesin, dan menginformasikan C / E dari setiap kekurangan.
  5.  Menjaga catatan diperbarui pemeliharaan preventif rencana yang berkaitan dengan kompresor, generator dll
  6. Menginformasikan C / E di muka kebutuhan suku cadang dan toko untuk mesin dikontrol.
  7. Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi).
  1. 11.                        Tugas Masinis 3 (3 / E)

3 / E laporan ke C / E (melalui 2 / E).

Dalam ketiadaan dari 3 / E, 4 / E mungkin diperlukan untuk memimpin sebagai 3 / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu dari DPA. Tanggung Jawab –

  1.  Jauhkan 08:00-0:00 mesin menonton ruang yang disediakan ia memegang sertifikat kompetensi yang sesuai, yang lain C / E mempertahankan menonton ini.
  2. Membantu C / E selama manuver kapal.
  3. Benar menjaga bahan bakar minyak dan pemurni minyak pelumas dan filter.
  4. Benar menjaga sistem bahan bakar transfer dan pabrik limbah.
  5. Menjaga peralatan lainnya / mesin di ruang mesin seperti yang diperintahkan       oleh C / E.
  6. Melakukan transfer bahan bakar dan minyak pelumas, mempertahankan sounding             tangki / catatan bunker dan membantu dalam pengisian bahan bakar.
  7. Menjaga catatan diperbarui rencana pemeliharaan preventif pompa.
  8. Menginformasikan C / E di muka kebutuhan suku cadang dan toko untuk mesin dikontrol.
  9. Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi).
  1. 12.                        Ratings atau Bawahan  Bagian Mesin
    1. Mandor (Kepala Kerja Oiler dan Wiper)
    2. Fitter atau Juru Las
    3. Oiler atau Juru Minyak
    4. Wiper

 

 

  1. 13.                        . Bagian Permakanan
    1.  Juru masak/ cook bertanggung jawab atas segala makanan, baik itu memasak, pengaturan menu makanan, dan persediaan makanan.
    2. Mess boy / pembantu bertugas membantu Juru masak

 

TUGAS DAN KEWAJIBAN ANAK BUAH KAPAL DINAS GELADAK

PASAL 1

  1. Waktu kerja orang dinas jaga selama kapal berlayar baik pada hari kerja, maupun pada hari minggu dan hari-hari libur resmi, adalah 8 jam sehari ditambah dengan waktu yang dibutuhkan:
    a. Mengambil alih jaga dan buku harian deck.
    b. Tanpa memperhatikan peraturan-peraturan setempat, maka untuk dinas harian,   pembagian kerja adalah sebagai berikut:
    07.00 – 12.00
    13.00 – 16.00
  2. Pekerjaan-pekerjaan di kapal dapat dibagi dalam:
    a. Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan dinas pada umumnya.
    b. Pekerjaan-pekerjaan dinas jaga.
    c. Pekerjaan-pekerjaan dalam keadaan luar biasa.
  3. Waktu makan diatur oleh nahkoda dengan mengingat waktu-waktu kerja yang telah ditetapkan, dengan catatan bahwa disamping itu diadakan coffee time 2 kali sehari selama 15 menit masing-masing.
  4. Peraturan umum untuk dinas dipelabuhan atau ditempat berlabuh. Jam kerja adalah 7 jam pada hari-hari kerja, kecuali hari Sabtu 5 jam. Minggu dan hari-hari libur resmi 0 jam.
  5. Para mualim jika perlu wajib bekerja lembbur atas permintaan nahkoda. Mualim I dengan kerja lembur diartikan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut.
    1. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan setelah selesai tugas jaga selama kapal berlayar.
    2. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan diluar jam-jam kerja yang ditentukan dalam no.5 pasal ini.
    3.  Pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk kerja lembur ialah:
      a. Pekerjaan-pekerjaan penting untuk keselamatan kapal, ABK dan muatan.
      b. Pekerjaan-pekerjaan untuk memegang sijil sekoci dan atau latihan sekoci, sijil kebakaran, dan atau latihan kebakaran.
    4. Dengan di berlakukannya fixed overtime (lembur tetap) maka semuaa awak kapal harus dengan suka rela melakukan kerja lembur minimal dua setengah jam sehari dan maksimal sesuai dengan kondisi dan situasi setempat, cuaca, muatan schedule kapal dll. Atas pertimbangan dan perintah nahkoda.JAGA PELABUHAN
    5.  Para mualim yang ditugaskan jaga pelabuhan dilarang meninggalkan kapal selama waktu jaga. Ia bertanggung jawab atas keamanan kapal beserta muatan serta alat-alat bantu untuk permuatan.
    6. Terutama ia dibebankan tugas menjamin dan menyelenggarakan pekerjaan serta tata tertib diseluruh kapal dalam bidang teknis yang lazim menjadi tanggung jawab deck umpamanya :
      a. Minta aliran listrik atau stroom untuk menjalankan derek-derek untuk dimuat.
      b. Memberitahu masinis apabila aliran listrik atau stroom tidak dipakai lagi.

PASAL 2

DINAS LAUT

  1. Yang diartikan dengan dinas jaga dianjungan dan dinas jaga di kamar mesin :
    1. Selama berlayar
    2. waktu jangkar, diperairan ramai, waktu hujan lebaat, kabut, arus laut, dan bila nahkoda anggap perlu :

Terdapat 6 masa jaga selama 4 hari, dimulai jam 00.00

  1.  Jaga anjungan : 8 jam sehari.

Larut malam (middle watch) : 00.00 – 04.00 mualim II

Dini hari (morning watch) : 04.00 – 08.00 mualim I/IV

Pagi hari (forenoon watch) : 08.00 – 12.00 mualim III

Siang hari (afternoon watch): 12.00 – 16.00 mualim II

Sore hari (dog watch) : 16.00 – 20.00 mualim I

Malam hari (first watch) : 20.00 – 24.00 mualim III

  1.  Di perairan ramai atau berbahaya, waktu cuaca buruk, waktu kabut, atau setiap keadaan lain yang mengurangi pengelihatan, masuk atau keluar pelabuhan atau sungai, nahkoda diwajibkan berada di anjungan.
  2. Mualim dinas (jaga) waktu melakukan jaga laut harus selalu berada di anjungan dan tidak diperkenankan meninggalkan anjungan tanpa seizin nahkoda.
    Sesudah jaga laut ia melakukan ronda dan melaporkan keadaan waktu ronda wajib ditulis di Journal Kapal.
  3. Jaga pelabuhan (berlabuh/sandar).

Jaga pelabuhan pada saat kapal sedang berlabuh/sandar diatur menurut kepentingannya nahkoda:

  1. Jaga mencegah pencurian.
  2. Jaga di anjungan.
  3. Jaga Kebakaran.
  4. Jaga dok, reparasi, las, dll.

Indraja Untuk Penangkapan Ikan Tuna

 

Di susun oleh :

Dedi Iskadar Daulay

NRP. 4509518670

 

PAPER

 

Tugas Mata Kuliah Indraja dan Akustik


      PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN

JURUSAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN

SEKOLAH TINGGI PERIKANAN

JAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi perikanan tuna yang besar. Pendugaan populasi ikan tuna selama ini menggunakan statistik perikanan. Pendekatan statistik memiliki keterbatasan antara lain membutuhkan waktu yang lama, akurasi yang diragukan dan luas cakupan perairan yang sempit. Untuk itu perlu diupayakan metode baru yang membehkan informasi yang akurat, komprehensif, mutakhir dan berkelanjutan tentang ikan tuna. Salah satu metode mutakhir yang dapat mengetahui kondisi ikan tuna adalah metode akustik. Penerapan teknologi akustik memiliki kelebihan antara lain mudah dalam pengoperasian instrumen, akurasi dan presisi yang tinggi, dapat melakukan pemantauan dan kuantifikasi stok ikan secara kontinue, in situ dan real time dalam pemrosesan serta analisis data. Untuk aplikasi metode akustik tersebut maka penelitian dasar untuk menghitung sifat refleksi akustik atau dikenal dengan Target Strength (TS) dari ikan tuna dilakukan menggunakan echo sounder. Hasil yang diperoleh adalah hubungan nilai TS terhadap panjang ikan dan volume gelembung renang terhadap ikan tuna mata biru (Thunnus obesus) dan tuna sirip kuning (T. albacares). Target Strength (TS) ikan tuna mata biru lebih besar 3 dB dari ikan tuna sirip kuning pada ukuran yang sama. Hasil ini berhubungan dengan perbedaan volume gelembung renang dari kedua spesies tersebut. Hubungan antara TS dan volume gelembung renang ikan tuna dibahas dalam hasil penelitian ini. Implikasi hasil riset ini adalah tersedianya data dasar penelitian akustik terhadap ikan tuna di Indonesia.

Wilayah Republik Indonesia sebagian besar berupa laut, oleh karena itu wilayah Indonesia sering disebut sebagai benua maritim. Sebagai archipelagic state (negara kepulauan) dengan luas laut 5.8 juta km2 Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam potensi sumberdaya perikanan dan kelautan. Laut Indonesia terbagi dalam wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) seluas 2.7 juta km2 dan Laut Teritorial sebesar 3.1 juta km2. wilayah perairan laut Indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam.

Pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing.

Karena negara Indonesia dilalui oleh garis khatulistiwa, mempunyai karakteristik yang unik karena di wilayah perairan tersebut sering terjadi interaksi antara masa air yang data dari samudra hindia dan samudra pasifik. Pertemuan masa air dari kedua samudra tersebut di daerah-daerah wilayah perairan laut Indonesia, dapat diperkirakan daerah-daerah tersebut terdapat ikan banyak gerombolan yang beraneka ragam. Disamping itu, wilayah laut nasional mempunyai daya dukung alami yang sangat potensial (misalnya potensi wisata bahari, terumbu karang dan sebagainya).

Potensi tersebut merupakan sumber daya alam asli Indonesia yang belum secara optimal dikelola secara serius dalam program pembangunan nasional. Oleh karena itu, diperlukan pengeolaan untuk dimanfaatkan seluas-luasnya bagi peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup bangsa Indonesia.

Karena sifat diatas, maka keberadaan daerah ikan di perairan Indonesia bersifat dinamis, selalu berubah/berpindah mengikuti pergerakan kondisi lingkungan, yang secara alamiah ikan akan memilih habitat yang lebih sesuai. Sedangkan habitat tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi atau parameter oseonografi perairan seperti temperatur permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil laut, cuaca dan sebagainya, yang berpengaruh pada dinamika atau pergerakan air laut baik secara horizontal maupun vertical.

Masalah utama yang dihadapi dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan ikan adalah sangat terbatasnya data dan informasi mengenai kondisi oseanografi yang berkaitan erat dengan daerah potensi penangkapan ikan. Armada penangkap ikan berangkat dari pangkalan bukan untuk menangkap tetapi untuk mencari lokasi penangkapan sehingga selalu berada dalam ketidakpastian tentang lokasi yang potensial untuk penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti. Disamping itu, sebagai akibat dari ketidakpastian lokasi penangkapan mengakibatkan kapal penangkap banyak menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground, dan ini berarti terjadi pemborosan bahan bakar.

Peran IPTEK sangat sangat diperlukan disini, dimana tanpa adanya dukungan IPTEK yang handal akan sulit bagi nelayan untuk dapat keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mengelilingi mereka. Salah satu teknologi yang dapat memberikan informasi kepada nelayan lokal mengenai wilayah perairan yang surplus ikan adalah teknologi penginderaan jauh atau remote sensing.

Penginderaan jauh mempunyai potensi untuk aplikasi bagi perikanan tangkap. Beberapa parameter yang diperlukan untuk analisis daerah potensial untuk penangkapan ikan dapat diperoleh dari penginderaan jauh, diantaranya suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil permukaan. Dari informasi sebaran suhu permukaan laut dapat diidentifikasi daerah upwelling dan front termal yang merupakan daerah potensi perikanan.

Konsentrasi klorofil permukaan menunjukkan tingkat kesuburan perairan di mana daerah yang subur merupakan daerah potensi perikanan. Analisis pola sebaran dan nilai suhu dan konsentrasi klorofil permukaan menghasilkan informasi zona potensi penangkapan ikan yang selanjutnya dapat diaplikasikan sebagai acuan bagi nelayan dalam operasi penangkapan ikan. peristiwa naiknya air dari dasar laut ke permukaan sebagai perbedaan gradien suhu yang yang dinamakan Upwelling. Maka daerah Upwelling tersebut biasanya terdapat klorofil yang merupakan makanan ikan dan diduga daerah tersebut terdapat banyak ikan yang disebut daerah fishing ground.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Penerapan Teknologi Inderaja Untuk Penangkapan  Ikan

Inderaja dengan menggunakan satelit merupakan sarana yang sangat bermanfaat dalam mengelola sumberdaya perikanan secara bijaksana, termasuk kegunaanya untuk mendeteksi zona potensi penangkapan ikan. Untuk perikanan, bukanlah ikan yang tampak langsung, tetapi adalah fenomena alam yang memungkinkan adanya ikan di suatu tempat, karena pada tempat itu banyak terdapat makanan ikan dan mempunyai kondisi lingkungan yang sesuai dengan jenis ikan tertentu.

Terdapat sejenis plankton yang mengandung klorofil (zat hijau daun). Plankton ini merupakan makanan ikan-ikan kecil yang pada gilirannya akan menjadi makanan bagi ikan yang lebih besar. Jadi dengan mendeteksi lokasi klorofil, maka secara tak langsung akan mendeteksi lokasi yang mungkin banyak ikannya. Cara mendeteksi klorofil ini, pada dasarnya adalah sangat sederhana. Sensor yang ada pada satelit diberi filter hijau (band hijau) secara digital, artinya detektor akan mendeteksi sinar hijau saja. Jadi sensor mendeteksi klorofil yang ada di laut. Tentu saja sangat perlu dilakukan beberapa sample pengukuran di laut (in-site, pengukuran di tempat), karena belum tentu sinar hijau yang dicatat oleh sensor satelit berasal dari klorofil. Setelah melakukan pengukuran di beberapa tempat dengan kapal misalnya, maka kini dapat dilakukan interpolasi atau ekstrapolasi terhadap data / citra satelit yang mempunyai liputan yang sangat luas itu; situasi klorofil pada lokasi yang luas dapat ditentukan dengan cepat. Seterusnya para nelayan akan diberi tahu untuk menentukan daerah operasi mereka.

Lokasi tempat berkumpulnya ikan dapat ditentukan dengan kombinasi antara lokasi klorofil, suhu permukaan laut, pola arus laut, cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air. Terdapat beda suhu di seantero muka laut. Hal ini disebabkan oleh naiknya lapisan air laut di sebelah bawah ke atas (upwelling) karena perbedaan suhu. Kenaikan lapisan air ini juga membawa zat makanan bagi kehidupan di laut. Jadi dengan mendeteksi upwelling akan dapat pula memberi petunjuk akan adanya ikan. Di samping itu setiap jenis ikan memiliki zona suhu yang tertentu sebagai habitatnya. Satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi masalah tersebut di atas adalah menggunakan teknologi penginderaan jauh.

Dengan demikian, penggunaan teknologi penginderaan jauh satelit (Inderaja) khususnya satelit NOAA-AVHRR (National Oceanic and Atmospheric Administration – Advanced Very High Resolution Radiometer) dipadu dengan data oseanografi, data cuaca dan tingkah laku ikan, didukung dengan metode pengolahan dan analisis yang teruji akurasinya, merupakan satu alternatif yang sangat tepat dalam mempercepat penyediaan informasi zona potensi ikan harian untuk keperluan inventarisasi dan evaluasi potensi kelautan.

Data utama yang diperoleh dari data NOAA-AVHRR adalah suhu permukaan laut yang selanjutnya disingkat dengan SPL. Pengamatan suhu permukaan laut dilakukan dengan menggunakan data NOAA-AVHRR, berkaitan dengan fenomena oseanografi khususnya monitoring fenomena upwelling / thermal front harus dilakukan dengan menggunakan data NOAA-AVHRR karena tidak memerlukan data dengan resolusi spasial yang tinggi mengingat wilayah perairan laut yang sangat luas, tetapi memerlukan resolusi temporal (repetitive time) yang cukup tinggi misalnya setiap 4 jam. Suhu permukaan laut merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan bagi keberadaan dan fenomena sumberdaya hayati laut dan dinamikanya. Pengamatan dan monitoring fenomena oseanografi dan sumberdaya hayati laut mengharuskan penggunaan banyak data dalam selang waktu observasi tertentu (harian, mingguan, bulanan, atau tahunan). Citra suhu permukaan laut (SPL) dari suatu perairan yang luas dapat digunakan untuk mengetahui pola distribusi SPL, arus di suatu perairan, dan interaksinya dengan perairan lain serta fenomena upwelling dan thermal front di perairan tersebut yang merupakan daerah potensi penangkapan ikan.

Masalah yang umum dihadapi adalah keberadaan daerah penangkapan ikan yang bersifat dinamis, selalu berubah / berpindah mengikuti pergerakan ikan. Secara alami ikan akan memilih habitat yang lebih sesuai, sedangkan habitat tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi oseanografi perairan. Dengan demikian daerah potensi penangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh faktor oseanografi perairan. Kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efisien dan efektif apabila daerah penangkapan ikan dapat diduga terlebih dahulu, sebelum armada penangkapan ikan berangkat dari pangkalan. Salah satu cara untuk mengetahui daerah potensial penangkapan ikan adalah melalui studi daerah penangkapan ikan dan hubungannya dengan fenomena oseanografi secara berkelanjutan (Priyanti, 1999).

2.2 Pengukuran kondisi atau faktor oseanografi perairan dilakukan dengan cara:

  1. Suhu

Pengukuran suhu dilakukan setiap jam di lokasi penangkapan ikan. Pengukuran suhu permukaan laut digunakan untuk verifikasi perhitungan suhu dari satelit NOAA. Jadwal lintasan satelit NOAA diperoleh dari prediksi orbit dari stasiun NOAA.

  1. Salinitas

Salinitas diukur pada saat penangkapan di lokasi ZPPI.

  1. Arus permukaan

Arus permukaan diukur di lokasi penangkapan ikan, baik arah maupun kecepatannya.

  1. Kedalaman perairan, kondisi laut, cuaca

Ketiga parameter tersebut diukur di lokasi ZPPI pada saat penangkapan ikan dilakukan. Kedalaman diukur dengan menggunakan echosounder.

2.3 Pendugaan Stok Ikan dengan menggunakan Echosounder

Echosounder digunakan untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan. Dengan peralatan canggih berupa echosounder dan perlengkapan Global Positioning System (GPS) dapat memudahkan nelayan mengetahui posisi ikan. Alat tersebut dimungkinkan dapat mengurangi beban nelayan akibat kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Echosounder merupakan teknologi suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument). Teknologi ini menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian.

Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air.

Beberapa langkah dasar pendeteksian bawah air adalah adanya transmitter yang menghasilkan listrik dengan frekwensi tertentu. Kemudian disalurkan ke transducer yang akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan.

Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer. Echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme yang cukup rumit hingga terjadi pemprosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator.

Prosesnya didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan.

Bila dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan, teknologi ini memiliki kelebihan, antara lain: informasi pada areal yang dideteksi dapat diperoleh secara cepat (real time). Dan secara langsung di wilayah deteksi (in situ). Kelebihan lain adalah tidak perlu bergantung pada data statistik. Serta tidak berbahaya atau merusak objek yang diteliti (friendly), karena pendeteksian dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan suara (underwater sound).

Teknologi ini juga dapat digunakan dalam mengukur dan menganalisa hampir semua yang terdapat di kolom dan dasar air, aplikasi teknologi ini untuk berbagai keperluan antara lain adalah; eksplorasi bahan tambang, minyak dan energi dasar laut (seismic survey), deteksi lokasi bangkai kapal (shipwreck location), estimasi biota laut, mengukur laju proses sedimentasi (sedimentation velocity), mengukur arus dalam kolom perairan (internal wave), mengukur kecepatan arus (current speed), mengukur kekeruhan perairan (turbidity) dan kontur dasar laut (bottom contour).

Saat ini, Echosounder memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment). Teknologi dengan perangkat Echosounder ini dapat memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan. Saat ini instrumen akustik berkembang semakin signifikan, dengan dikembangkannya varian yang lebih maju, yaitu Multibeam dan Omnidirectional. Perangkat Echosounder memiliki berbagai macam tipe, yaitu single beam, dual beam.

Negara-negara yang maju pada sektor kelautan-perikanan (Norwegia, Jepang, Amerika Serikat, China dan Peru) menggunakan teknologi ini untuk melakukan eksplorasi sumberdaya dengan cepat, sehingga dapat mengeksploitasi dengan optimal, efisien dan ekonomis karena biaya eksplorasi yang murah dan waktu eksplorasi yang cukup singkat.

Tetapi untuk sektor kelautan-perikanan Indonesia teknologi ini masih jarang digunakan, khususnya oleh perusahaan-perusahaan perikanan. Sebaiknya perusahaan-perusahaan tersebut memanfaatkan teknologi ini untuk kegiatan eksplorasi yang maksimal dan eksploitasi sumberdaya yang optimal.